Balita Bermain Bersama Ayah Dan Manfaatnya

Balita Bermain Bersama Ayah Dan Manfaatnya

balita bermain bersama ayah – Tumbuh kembang anak tidak hanya dipengaruhi oleh makanan, mainan dan lingkungan yang baik, namun yang terpenting untuk tumbuh kembang anak adalah kasih sayang. terutama oleh kedua orang tuanya.

perlakuan buruk dan kasih sayang yang kurang akan menghambat tumbuh kembang anak. perkembangan anak akan terganggu baik secara fisik maupun psikis.

Secara fisik barangkali akan lebih mudah di analisa karena mudah kita lihat tetapi bila secara psikis lebih susah untuk di analisa, karena kadang-kadang pengaruhnya tidak seketika itu, tetapi bisa beberapa tahun yang akan datang ketika anak tumbuh menjadi dewasa.

Perbedaan Balita Bermain Bersama Ayah Atau Ibunya

Banyak permainan yang bisa dilakukan si kecil bersama ayahnya.
Disamping mempererat kelekatan emosi, bayi juga belajar jadi sosok mandiri.

Tanggung jawab ayah dan ibu adalah sama dalam menstimulasi perkembangan anak.
Dalam prakteknya tentu saja ayah harus banyak terlibat dalam pengasuhan anak.

Apalagi ternyata ayah dan ibu dapat saling melengkapi dengan mengisi peran yang berbeda-beda. Ini dibuktikan dalam studi yang dilakukan Lamb & Roopnarine et. Al. pada tahun 1990 di berbagai budaya di dunia yang menunjukkan bahwa ayah mengambil peran yang berbeda dengan ibu dalam berinteraksi dengan anak.

Jika ibu lebih banyak memperhatikan aspek fisik dan menunjukkan perhatian dan perasaan, maka ayah mengambil peran sebagai teman bermain bagi anak (mother as a caregiver, father as a playmate).

Studi yang dilakukan Lamb & Oppenheim tahun 1989 menelusuri apa yang akan terjadi kalau peran tersebut dibalik (ibu sebagai teman bermain dan ayah sebagai caregiver), ternyata ayah tetap mempertahankan perannya sebagai teman main bagi anak.

Pendapat ini didukung oleh banyak peneliti yang mengatakan bahwa para ayah mempengaruhi anak-anak mereka melalui permainan.

Para ayah biasanya menghabiskan lebih banyak persentase waktu mereka bersama anak-anak dalam kegiatan bermain.

Selain itu, para ayah juga memiliki kecenderungan berbeda dengan gaya ibu dalam bermain.

Ayah cenderung memilih permainan yang melibatkan aktivitas fisik dan lebih menantang, semisal mengangkat, mengayun, bergulat atau permainan yang bersifat maskulin lainnya.

Boleh jadi karena sebagai pria, ayah memiliki kekuatan dan keseimbangan motorik yang lebih baik serta lebih berani mengambil tindakan yang berisiko seperti mengayun bayinya.

Sementara ibu condong memilih permainan konvensional yang sebelumnya sudah teruji tingkat keselamatannya. Antara lain permainan cilukba, keplok ame-ame, bermain pasel atau membaca buku.

Survei menunjukkan, dalam berinteraksi ayah sering berinisiatif mengeluarkan bunyi-bunyian dan tepukan berirama untuk mendapat perhatian bayinya.

Perpaduan fisik dan gaya heboh ini merupakan cara penting bagi bayi untuk mengeksplorasi kehidupan emosinya.

Bayangkan permainan dimana seorang ayah berperan sebagai seekor beruang besar yang menakutkan yang sedang berusaha menggigit bayi kecil yang justru tertawa-tawa karena digelitiki.

Permainan seperti ini memungkinkan anak mengalami sensasi berupa sedikit rasa takut sekaligus senang dan bergairah.

Pengalaman emosi inilah yang kelak akan membantunya mengolah emosi sewaktu berhadapan dengan dunia sesungguhnya yang lebih luas.

Bagi si ayah, permainan hingar bingar menjadi tumpuan harapan bahwa anaknya kelak juga akan memiliki keberanian dalam menghadapi bahaya, tidak mudah terkejut, serta memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap lingkungannya.

Peran Ayah Dalam Membantu Perkembangan Emosi Anak

Bayi yang mendapat perhatian dan kesempatan sama besar antara bermain dengan ayah dan dengan ibu mampu menunjukkan perkembangan yang cenderung lebih baik, secara kognitif, sosial, maupun emosionalnya.

Berdasarkan pemikiran ini bisa di mengerti bila anak yang memiliki banyak waktu bermain bersama ayah umumnya memiliki kematangan yang lebih baik.

Sebaliknya bila ayah jarang melakukan aktivitas fisik bersama bayinya, bisa dipastikan ia sulit membangun interaksi dengan si kecil.

Ayah akan menjadi sosok yang asing.
Sementara perkembangan emosi bayi pun tidak optimal. Inilah kerugiannya jika balita bermain bersama ayah tidak terpenuhi.

Nah, agar dapat mencapai manfaat optimal, ayah yang ingin bermain dengan buah hatinya perlu memahami tahapan perkembangan bayi.

Lalu cermati apa saja yang sudah bisa dilakukan si kecil dan mana yang belum.
Hindari aktivitas yang bersifat terlalu maju karena tidak akan menghasilkan stimulasi yang optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.