Menumbuhkan Minat Belajar Anak

Menumbuhkan Minat Belajar Anak

minat belajar anak – Modal otak saja tidak cukup untuk mempunyai anak yang berprestasi.
Dibutuhkan faktor-faktor lain dari luar diri anak, yang juga tidak kalah penting dari peran otak anak itu sendiri.

“There is genius in all of us”.

Masih ingatkah anda dengan pernyataan seorang ilmuwan hebat dan kondang Albert Einstein ini?

Memang benar bahwa setiap anak mempunyai potensi untuk menjadi genius seperti Albert Einstein atau Thomas Edison.

Mungkin dalam hati anda bertanya,
“Jika setiap orang yang terlahir di dunia ini mempunyai potensi genius, lalu kenapa masih ada siswa yang tinggal kelas?
Yang berhitung saja tidak bisa?
Yang membaca satu kalimat pun tidak mampu?”.

Jawabannya sangat sederhana. Bahwa peran orang tua dan lingkungan tidak bisa dilepaskan dalam pembentukan anak yang cerdas dan berkualitas.

Menumbuhkan Minat Belajar Anak

Apa kabar sayang?
Ada PR nggak dari sekolah?
Sudah dikerjakan belum?
Ayo, nanti belajar ya,…..kerjakan Prnya.
Nggak boleh main dulu. Tadi ulangannya berapa?
Aduh ….kok dapat jelek lagi?
Makanya jangan malas. Kalau ingin dapat nilai yang bagus, kamu harus rajin belajar.
Nanti awas ya, kalau nilainya jelek terus, nggak boleh lagi nonton TV atau main PS.

Beberapa potongan kalimat diatas tidak sadar sering menjadi menu santapan anak setiap hari ketika mereka pulang dari sekolah, atau saat anda pulang kantor.

Bahkan saat berkumpul bersama keluargapun, pertanyaan seperti itu seolah menjadi jawara bagi kebanyakan orang tua.

Kemerdekaan lepas dari jeratan sekolah (karena sebagian anak masih menganggap bahwa sekolah adalah keinginan orang tua, bukan atas kesadaran diri) tidak juga dibebaskan di rumah.

Mereka terjebak pada wilayah PR, ulangan dan berbagai jenis tes yang berujung pada satu tujuan, dapat nilai bagus, kalau bisa ranging 1.

Nanti bisa melanjutkan ke sekolah favorit, perguruan tinggi favorit dan dapat kerja yang bagus. Ujung-ujungnya tetap pada ukuran kesejahteraan ekonomi.

Hal ini tidak salah karena salah satu target belajar memang bisa bisa menjadi yang terbaiklewat parameter angka-angka ulangan harian atau raport serta keberhasilan masuk dunia kerja yang mapan.

Kebutuhan pragmatis tersebut juga dibarengi gaya instan dalam proses menyerap ilmu dan menempuh proses belajar.

Belajar menjadi beban tersendiri untuk anak yang memang tidak menikmatinya. Praktis minat belajar anak menjadi turun ke titik terendah.
Mereka diikutkan dengan sejumlah les dan bimbel untuk mendongkrak nilai-nilai di sekolah yang dianggap jelek. Apalagi jika pelajaran tersebut terkait penentuan kelulusan.

Maka tidak mengherankan jika sejumlah siswa lebih suka jika diajarkan dengan soal-soal yang disertai kunci jawaban, daripada harus membaca dulu baru menemukan jawaban atas penyelesaian soal-soal.

Orang tua atau guru secara tidak sadar membudayakan pengertian belajar sebagai aktivitas duduk sambil membaca, menyelesaikan PR dan tugas-tugas sekolah.

Menumbuhkan Minat Belajar Anak Butuh Proses

Belajar bagi kebanyakan orang adalah menghadapi, membaca dan mempelajari buku-buku yang segunung.
Bagaimana dengan anda?
Apa yang selama ini sudah anda terapkan dalam mendidik anak?

Anak yang mempunyai tumbuh kembang yang baik biasanya mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu hal yang baru, bahkan sejak anak masih bayi.

Saat anda menggantung mainan berwarna-warni di atas box bayi, anda akan melihat betapa cerianya anak anda dengan tangan yang bergerak-gerak, seolah ingin menggapai mainan yang anda taruh.bahasa bayi yang seperti itu sesungguhnya mengandung sebuah makna yang besar, betapa mainan yang anda gantung itu menarik, berkesan dan indah (menurut bayi anda).

Ketika anak anda berusia 3, 4 atau 5 tahun, pertanyaan bertubi-tubi datang kepada anda, yang sebenarnya menurut anda tidak penting, seperti

Ma, kenapa TV itu ada suaranya?
Ma, kenapa bintang itu bercahaya?

ironisnya, banyak para ibu-ibu yang menjawabnya dengan sebelah mata, sinis dan mungkin cuek. Masih terlalu kecil, tidak penting atau seronok, barangkali itu menjadi alasan atas ketidakpedulian para ibu terhadap sikap kritis anaknya.

Sikap yang tidak bijak ini sebenarnya sudah mematikan rasa keingintahuan anak (yang merupakan bagian dari tumbuh kembang positif).

Padahal, fase rasa ingin tahu ini tumbuh secara naluri, alami, bukan atas kehendak anak sendiri.

Sikap dan perilaku orang tua seperti itu bukanlah sikap yang positif, yang jika dibiarkan terus menerus akan mengganggu perkembangan dan konsentrasi anak dalam belajar.

Jika otak anak sudah ready (artinya anak tidak dalam keadaan cacat mental), tentu tugas orang tua adalah menumbuhkan minat anak agar mencintai proses belajar, sehingga anak akan menganggap bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan, ngangeni dan bermanfaat bagi anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.